Memiliki keterbatasan bukan halangan bagi Ahmad untuk berkreativitas dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya.
Pria berusia 28 tahun itu mampu membuat rangka robot laba-laba dengan bahan dan alat seadanya. Ahmad merupakan penyandang disabilitas buta dan tuli warga Cilegong Utara, Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta anak pertama pasangan Ecin kuraesin (53) dan Arna Sumarna (58).
Meski penyandang disabilitas tidak jadi penghambat bagi Ahmad untuk berkarya dan berinovasi untuk mengembangkan bakatnya di bidang teknologi. Keterbatasan modal membuatnya berpikir lebih keras menghasilkan sesuatu dari bahan sederhana yang tersedia.
Mulai dari penjepit kertas, kabel, baterai, alat solder, dan tang menjadi barang utama Ahmad membuat robot sederhananya. Rangka robot laba-laba yang dibuatnya berasal dari penjepit kertas yang ia bentuk sedemikian rupa. Mekanik sederhana dari gir plastik dan cip adalah penggerak robot yang rata-rata berbentuk laba-laba itu.
Remote televisi dan powerbank bekas disulap menjadi remote penggerak robot berkaki enam yang dibuatnya. Melalui ibunya, Ahmad mengaku bahwa ia autodidak belajar dari program televisi dan YouTube untuk membuat robotnya itu.
“Inisiatif dan tekad dia itu tinggi sejak kecil, mungkin setelah tidak sekolah daripada diam dan bengong, ya, jadi mikirnya dia, tuh, ingin berkreasi gitu,” kata Ecin saat ditemui awak media di rumah sederhananya, Selasa (20/11/2018).
Tanpa ada pembimbing bahkan guru yang mengajarkan teknik robotika, Ahmad tekun belajar sendiri dari berbagai sumber. Setidaknya sudah tiga tahun terakhir, lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) setingkat SMP itu menggeluti dunia robotika sederhana.
Pada dua tahun awal kreasinya, Ahmad sering kali bongkar pasang hasil jadi robot-robotannya.
“Dulu, sih, setelah robotnya jadi, enggak lama sama dia langsung dibongkar lagi untuk bikin robot baru. Mungkin karena keterbatasan bahan dan alat,” ujar Encin.
Oleh karena itu, di ruang kerja khususnya itu hanya terdapat sekitar tujuh robot. Sebelumnya robotnya tidak pernah ada yang awet atau benar-benar disimpan. Lima diantaranya adalah robot laba-laba dengan berbagai mekanik penggerak yang bertenaga baterai handphone bekas. Agar robotnya tidak monoton dalam bentuk rangka, ia memberi lampu pada robotnya.
Ecin bercerita robot pertama yang diperlihatkan adalah mekanik gorden di rumahnya agar otomatis terbuka dan tertutup menggunakan remote Setelah keberhasilan membuat seluruh keluarga di rumahnya kagum akan gorden yang bisa bergerak sendiri. Ahmad pun semakin bertekad membuat robot-robot lainnya.
“Berawal dari situlah mungkin Ahmad semakin semangat. Mulai dari payung bekas, handphonebapaknya, radio hingga pemotong bawang milik saya dia bongkar untuk dijadikan robot,” ucap dia.
Meski begitu, dia pun menilai positif kegiatan putra kebanggaannya itu meski sering kali kesal karena barangnya dibongkar. Saking tekunnya, Ahmad tidak jarang lupa akan waktu saat tangannya membuat atau memperbaiki robot.
“Kalau sudah depan mejanya, dia bisa sampai seharian penuh. Istirahatnya hanya buat salat saja, makan pun kadang lupa,” katanya bercerita.
Karena keahliannya membuat robot, kini Ahmad membuka jasa servis handphone. Telah banyak pelanggan setia yang memperbaiki telepon genggam kepadanya. Uang hasil servisnya ditabung dan diperuntukkan memberi peralatan dan bahan baku pembuatan robotnya.
Sang ibu pun berharap, meski memiliki keterbatasan berbicara, Ahmad terus berkreasi dan melakukan hal positif.
“Semoga bisa lebih maju, dan sukses. Semoga kedepannya ada yang bisa membimbing dia lebih baik dalam bidang robot-robotan ini,” ucap Ecin

